Pages

Jumat, 06 Agustus 2010

Apa itu Teknik Geodesi? Penjelasan Lengkap Tentang Ilmu Geodesi

Berawal dari pertanyaan salah seorang peserta milis itb, mengenai pengertian dari *Ilmu Geodesi* serta manfaat realnya, dari diskusi yang ada kemudian muncul salah satu penjelasan yang cukup runtut dan telaten. Banyak sekali yang bisa dipelajari dari jawaban Bpk. Klaas J Villanueva oleh para Geodet. Pertanyaan dari mailing list ini di jawab pada hari Rabu, 19 May 1999 seperti tercantum di bawah ini ....

Berikut ini adalah jawaban dari Bpk. Klaas J Villanueva :

Pertanyaan Sdr. Ramli Sihaloho memang lumrah.

Jangankan mahasiswa, banyak dosen senior di ITB pun sulit menjelaskan secara lengkap apa itu geodesi. Belum lagi dosen geodesi pun kurang komprehensip dapat melukiskan ruang lingkup ilmu geodesi, sehingga gajah mungkin jadi ular, karena yang diceriterakan cuma belalainya. Tapi apakah penjelasan itu dapat diberikan hanya melalui satu email? Untuk mendalami ilmu dan profesi ini sampai didirikan organisasi-organisasi ilmiah dan profesi seperti International Association of Geodesy, International Cartographic Association, International Society for Photogrammetry and Remote Sensing, International Federation of Surveyors, International Geodynamics Service, International Union for Geodesy and Geophysics etc.

Apakah 'the world is so stupid' sampai University of New South Wales perlu punya School of Geomatic Engineering (ganti nama: dahulu School of Surveying), University of Melbourne punya Department of Geomatics, University of Florida punya Department of Geomatics, University of New Brunswick punya Department of Geodesy and Geomatic Engineering, Technische Universiteit Delft punya Afdeling Geodesie, Technische Univesitat Berlin punya Abteilung Vermessungswesen dst.nya, semuanya pendidikan minimal 8 semester tingkat universitas. Dibawah itu ada pendidikan tingkat teknisi dan atau teknolog, contohnya TAFE di Australia.

Bila ada yang menanyakan apakah geodesi cukup untuk pendidikan DI/DII/DIII, tentu yang bersangkutan hanya terekspos pada materi Ilmu Ukur Tanah atau Plane Surveying. Mungkin sedikit dapat Higher Surveying atau simple problems of Engineering Surveying. Entah Sdr. Ramli dari Jurusan mana. Materi apa yang diminta oleh Jurusan bersangkutan untuk matakuliah servis itu. Kalau yang diminta cuma Ilmu Ukur Tanah ya diberi Ukur Tanah (Plane Surveying). Kalau diminta Surveying and Mapping secara lengkap ya dapat juga diberikan. Kalau hanya diminta umpamanya Mine Surveying ya diberi Mine Surveying. Kalau diminta Route Surveying ya diberi Route Surveying. Ini tentu terlepas dari kompetensi dan disiplin tidaknya dosen bersangkutan dalam mencakup semua materi yang diminta dengan jumlah sks yang disediakan.

Kalau teknik-teknik canggih surveying belum sampai diperlukan di Indonesia, ya itu menunjukkan tingkat kemajuan pembangunan baru sampai disitu. Contoh apakah perlu dipantau secara real time pergerakan bendungan Saguling menggunakan real time kinematic GPS, dan dibuat analisis apakah itu salah ukur atau itu pergerakan bendungan, atau katakan diukur tiap hari 5x dengan sipat datar, kemudian data dikaji dengan statistical analysis, bagaimana pola gerakan bendungan dengan kenaikan air. Dengan segala kemauan baik, itu tidak dapat dilakukan oleh lulusan tingkat Diploma. Ia hanya dilatih untuk mengukur. Pada setiap spesialisasi di bidang profesi geomatika memang diperlukan tingkat technician, technologist dan tingkat sarjana (yang akan menjadi professional dan manager).

Kesulitan mejelaskan teknik geodesi, yang sekarang juga dikenal dengan nama teknik geomatika, sebagaimana ia dicakup dalam kurikulum semua universitas diatas, ialah dikarenakan ia mencakup 3 kelompok besar materi, yang satu dengan lainnya mengarah ke spesialisasi yang berbeda. Pertama kelompok materi yang terkait kerekayasaan menunjang keperluan pembangunan teknik sipil. Disini diperlukan SDM dari tingkat teknisi sampai sarjana. Kelompok lain dekat atau dapat dikatakan juga bagian dari geofisika. Di kelompok ini didalami masalah medan gayaberat, bentuk bumi global, medan gayaberat bumi dan penentuan posisi teliti, termasuk pemantauan rotasi bumi dan gerakan sumbu putar bumi (physical geodesy, gravimetry, geodynamics dll.).

Kelompok besar lain terkait land data management dan land management. Disini ia dekat ke planologi dan kebidang-bidang yang jarang ada di jurusan lain, khususnya di universitas. Pendaftaran Tanah, Land Valuation, Quantity Surveying, PBB, Land Consolidation, Urban Geomatics, Rural Geomatics, banyak materi lain, yang semuanya mendukung disamping hal ke-Pemerintahan-an, juga perencanaan pada tingkat mikro. Teknologi pendukungnya ialah disamping alat-alat ukur terestrial surveying, aerial surveying, juga perangkat teknologi GIS (geograhic information system) atau teknologi LIS (land information systems) serta berbagai dukungan IT (information technology). Kelompok terakhir makin menonjol di era informasi, bukan karena dengan teknologi komputernya kelihatan lebih flamboyan, tetapi perubahan spasial itu demikian cepat, dan frekuensi permintaan data/informasi spasial baru makin meningkat.

Matematika untuk Higher Surveying cukup tinggi, sama tingginya untuk Structural Analysis di Teknik Sipil. Diperlukan Numerical Analysis (dapat dikatakan semua yang ada di text book) dan Statistical Testing. Rasanya hal analisis statistik di ITB, tidak banyak Jurusan yang harus mendalaminya seperti di Jurusan Teknik Geodesi. Malah untuk hypothesis testing, dunia geodesi akhirnya perlu mendesain statistik baru, contoh B-method of testing dari Baarda (TU Delft). Itu baru hal Surveying, yang umumnya dekat dengan keperluan kerekayasaan. Ini satu kelompok materi kepedulian geodesi.

Kesan saya untuk Jurusan Teknik Sipil, Arsitektur, Planologi, dan Tambang, baru diberikan an Intrdoduction to Surveying. Mending kalau juga mencakup an introduction to Aerial Surveying (Photogrammetry) and Remote Sensing, yaitu teknik untuk mapping non-terestrik dan ke GIS. Alangkah baiknya, malah harus, bila juga diekspos teknologi GPS. Tapi berapa SKS-nya?

Memang ada salah kaprah terhadap perangkat ukur blackbox technology atau push-button technology oleh sementara pihak, yang telah menggunakan teknologi GPS atau GIS. Tanpa perlu tahu software apa yang ada didalamnya, sistem koordinat apa yang dipakai, bagaimana mereduksi data ukuran ke bidang atau ruang hitungan, berapa ketelitiannya dlsb.nya. Setelah ada receiver GPS atau software GIS ada komentar geodesi bisa ditutup. Apakah setelah ada robot dengan artificial intelligence banyak jurusan di universitas harus ditutup? Tidak, karena ilmu berkembang terus dan kurikulum dengan demikian berubah. Semua teknologi cuma tools, ilmunya tetap ada dan dikembangkan dengan secara optimal memanfaatkan tools itu. Teori berkembang terus dan dipakai. Contoh untuk pengolahan satellite imagery perlu dipakai ilmu-ilmu baru seperti fuzzy theory atau wavelets (semacam analysis Fourier untuk apkroksimasi lokal).

Banyak sarjana non-geodesi tidak dapat membedakan receiver GPS yang navigation type, surveying type atau geodetic type. Yang beli navigation type tidak tahu posisi yang ditunjukkan bisa salah ratusan meter sampai kilometeran dan heran mengapa koordinat UTM atau geografis yang diperlihatkan kok berubah-ubah, sehingga dikira alatnya rusak. Apa itu koordinat UTM-pun tidak tahu, padahal dibelakang setiap proyeksi peta ada latar belakang differential geometry dan teori fungsi yang adalah matematika yang cukup abstrak. Seorang geodit yang tahu hal sumber dan penjalaran kesalahan tidak heran kalau hasil ukuran satu dengan lain berbeda karena tahu sifat dari observables dan mencari teknik yang memadai untuk mengatasinya, a.l. memodelkannya sebagai random variable dan mengolahnya secara statistik. Teknologi ukur push-button itu sepintas dapat dipakai oleh siapa saja, malah lebih mudah dari merakit komputer, tapi menginterpretasi data yang sulit dan mengatakan ini data andal dengan ketelitian sekian itu yang sulit. Jangan-jangan karena banyak orang bisa merakit komputer atau radio di Cikapundung ada komentar buat apa Jurusan Elektro di ITB. Cukup bikin Politeknik di Ciwaruga. Ndak kan. Apakah karena yang bangun rumah-rumah real estate kebanyakan self-made tukang perlu belajar teknik sipil dan arsitektur. Ya iya, karena dibelakang tukang-tukang kelas satu itu ada satu bangunan ilmu dan teknologi yang telah didalami ratusan tahun dan sedang terus dikembangkan, sampai bisa buat pencakar langit, jembatan atau terowongan antar pulau dst.nya.

Sedikit pakar geodesi sendiri yang tahu bahwa pemantauan geodinamik lempeng-lempeng kerak bumi dengan secara geometrik/geodesi oleh geodit terkait Deep Space Research NASA, dimana kapal ruang angkasa yang dikirim ke planit-planit, matahari atau benda angkasa lain, terkait navigasi dengan kebalikan VLBI, (Very Long Baseline Interferometry; VLBI adalah teknik mengukur jarak ribuan kilometer antara 2 titik di muka bumi dengan ketelitian cm, dengan memakai sinyal dari quasar/bintang-radio), yang stasiunnya terletak diatas lempeng kerak bumi yang senantiasa bergerak. Salah navigasi karena posisi stasiunnya bergerak, bisa berarti kehilangan kapal angkasa yang harganya milyaran dollar. Ini satu sumbangan geodesi.

Tapi ambillah sistem navigasi dengan satelit GPS atau peluncuran kapal ruang angkasa yang memerlukan perencanaan orbit satelit dengan teliti, untuk mana perlu diketahui medan gaya berat bumi (juga medan gayaberat planet atau pemetaan planet). Untuk itu perlu diukur gayaberat di seluruh permukaan bumi kemudian medan gayaberat bumi dibuat modelnya. Untuk itu perlu dihayati teori potensial dan aplikasi spherical harmonics. Dapat dikatkan Geodesy is applied higher mathematics. Apakah Anda tahu bahwa geodesi (program internasional) secara periodik mengukur pergerakan Jawa, Sumatera relatip terhadap Australia dan pulau Christmas, yang bergerak kira-kira 3 cm per tahun menggunakan high precision GPS, dengan analisis yang canggih.

Mengacu ke materi kurikulum geodesi yang tergusur dalam 20 tahun terakhir, diprediksi materi itu akan kembali mendapat tempat di kurikulum geodesi, karena pengendalian pembangunan yang baik memerlukan sistem administrasi pertanahan yang baik. Maka Hukum Agraria, Hukum Tanah, Hukum Adat, Land Economics, Land Valuation, Urban Planning, Rural Planning, Irigation, Land Resources Management, River Basin Management, Water Resources Management akan mendapat tempat lagi. Planning is a team work, dimana surveyor geomatik harus tahu disiplin lain yang terkait. Seperlunya bila ia menjadi pakar, ia bisa jadi team leader. Di lain pihak segmen baru minta lebih diperhatikan, yaitu hidro-oseanografi. Ini sedang dikembangkan Prof. Sjamsir Mira. Indonesia sebagai the largest archipelagic state sangat ketinggalan di bidang ini.

Kesemua diatas itu, adalah ilmu-ilmu yang dimanapun di dunia jarang diajarkan pada tingkat technologist (DI/DII/DIII), paling sebagiannya saja, karena derajat kesulitannya. Problemanya adalah Indonesia yang terbentang sepanjang 1/8 keliling bumi dan dibatasi paralel 11 lintang selatan dan 15 lintang utara, belum didukung oleh lembaga-lembaga pendidikan dan riset yang memadai fasilitasnya, baik peralatan ajar dan riset, juga SDM-nya. Contoh kalau bicara peta anomali gayaberat global, Indonesia dianggap masih kosong data. Kalau bicara data pasang surut air laut di sekitar 17000 pulau, Indonesia juga dianggap masih kosong. Kalau perlu dipantau keutuhan hutan hari demi hari karena penjarahan, tidak cukup tenaga dan biaya untuk mengolah hasil pemantauan oleh satelit inderaja yang senantiasa merekamnya secara berulang hari demi hari. Kalau ditanya ke Badan Pertanahan Nasional atau Menteri Agraria berapa persen persil tanah sudah dipetakan dan berapa lama baru selesai dipetakan dengan teknologi paling canggih (GPS, Fotogrametri dlsb.nya), jawabannya mungkin baru 40% dan diperlukan 20 puluh tahunan. Diperlukan sekitar 100 000 orang tingkat teknisi, teknolog, dan sarjana (1:3:12) untuk memelihara administrasi pertanahan bagi pembangunan di permukaan bumi nusantara, yang senantiasa berubah rupanya dengan jumlah penduduk yang senantiasa bertambah.

Di banding negara lain kita masih terbelakang di bidang-bidang yang disebut diatas. Tahukah Anda Peta Kota Jakarta dan Peta Kota Bandung yang paling bagus dan baik adalah buatan orang asing. Kenapa? Karena disamping kepakaran, diperlukan dana dan kemampuan data management. Pengalaman sangat diperlukan. Mengapa atlas untuk SD, SLTP, SMU dikatakan outdated sekitar 15-20 tahun? Karena data tidak terhimpun dan membuatnya juga memerlukan pakar-pakar yang terdidik pada tingkat universitas. Ilmu generalisasi data spasial tidak mudah. Informasinya harus andal sesuai atribut, skala dan sasaran usernya. Dinas Tata Kota, Dirjen PBB, Pendaftaran Tanah (BPN), semua Departemen, termasuk Dephankam, TNI AU-AL-AD, memerlukan tenaga surveyor geomatika. Kita baru pada tahap awal dan tidak usah malu mengaku masih tahap underdeveloped, walaupun teknologi mutakhir sudah muali dipakai. Pajangan komputernya sih banyak, managemennya basih berantakan, terutama karena kurang dana dan SDM yang dedicated.

Kuliah-kuliah geomatika pada Jurusan Teknik Sipil, Arsitektur, Planologi, Tambang, Teknik Lingkungan memang harus ditinjau kembali. Program-program DI-DII-DIII dan SMK-SMK harus dibuka disemua propinsi. Namun akhirnya permintaan pasar yang menentukan. Penyediaan SDM harus demand oriented dan bukan supply oriented. Kalau pembangunan meningkat, maka peranan surveyor geomatika makin penting. Namun sering dilupa bahwa data harus tersedia sebelum perencanaan dimulai dan bahwa penghimpunan data dan informasi itu memerlukan waktu cukup lama (setahun dua tahun). Antisipasi kebutuhan dan ketersediaan data dan informasi spasial pada waktunya menentukan efisien dan efektif tidaknya pembangunan. Kalau data diminta disediakan dalam semalam, ya siap saja untuk mendapatkannya dengan segala kekurangannya, karena proyek ya proyek. Kalau bilang tidak bisa, nanti diancam pakai tenaga asing. Juga kan bisa diatur dengan pemberi proyek. Ini Orde pra reformasi ya.

Tidak mengherankan bahwa Bank Dunia, ADB dan bantuan bilateral menekankan bahwa kalau pinjam uang dan agar pembangunan mau berjalan secara efisien dan efektif, sistem administrasi pertanahan harus dibenahi, sistem pendaftaran tanah dan hukum tanah terkait perlu dikaji kembali, dst.nya. Pemerintah akan mengeluarkan Peraturan Pemerintah yang baru untuk land reform atau agrarian reform? Mau reform apa kalau tidak ada data/informasi tentang land-nya. Sedangkan pemetaan jaring utilitas DKI saja masing diawang-awang. Di Senin tiang pancang menembus saluran air minum. Saluran bawah tanah di DKI bikin pusing seribu keliling bagaimana memetakannya, karena tidak dipetakan sebelumnya. Jaringan utilitas perkotaan adalah sistem syaraf masyarakat moderen. Sedikit terganggu, puluhan sampai ratusan ribu orang terganggu dengan biaya yang sering tidak dihitung dan kalau dihitung mungkin mencengangkan besarnya. Manajemen Perkotaan di jaman moderen, dimana dapat berkumpul 4 sampai 10 juta orang, memerlukan information managers yang canggih. Surveyor Geomatika juga dipersiapkan untuk menjadi Urban Spatial Data/Information Managers, menjadi semacam ahli (dokter) sistem syaraf kota-kota besar. It is not as simple as you think. Di Eropa setiap tahun negara-negara Eropa mengadakan Urban Data Management Symposium.

Nah ini sedikit buka tabir manfaat riilnya teknik geomatika. Jelas belum seluruh gajah dapat diekspos. Sehari sehelai benang, lama-lama si gajah terselimuti juga. Jadi sabar.

Salam,

Klaas Villanueva

--MimeMultipartBoundary--

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Waaaw kaka keren bgt penjelasannya :D info ini sangat membuka mata orang orang yg kadang suka salah kaprah tentang hal yg disebutkan diatas, kebetulan kemarin ada salah satu temen saya yg bilang, untuk apa ada geodesi kan ilmunya juga dipelajari sama anak sipil, plano, dll. Lagian orang indonesia kan kalo mempekerjakan seseorang biasanya ngga mau repot repot, cukup satu yg mencakup semua, dan itu ada di sipil. Tp saya kurang sependapat dgn teman saya tersebut, karena org sipil yg saya kenal aja ngga bisa ngebedain antara geoid dsn ellipsoid haha

Who's amung us